Sabtu, 08 Januari 2011

BALI’S SURPRISE

Semua orang di dunia ini tentunya sangat menginginkan memiliki banyak teman, tak terkecuali aku. Disekolah SMA 5 Kota Bali, aku memiliki banyak teman,mungkin karena itu kehebatanku. Tapi, tentu saja aku memiliki sahabat-sahabat yang selalu ada untuk menutupi masalah hidupku. Citra, Aulia, dan Bella, mereka adalah sahabatku, tanpa mereka duniaku serasa neraka yang panas.Tak semudah yang aku bayangkan ketika bertemu dengan mereka, sifat kami begitu berbeda dan tibalah suatu hari dimana kami dipertemukan untuk bersahabat. Sejak pertemuan itu kami selalu bersama, bahkan kami membuat persatuan yang biasa disebut Beauty girls. Tapi, semenjak aku dipindahkan sekolah oleh orang tuaku, aku tak tahu bagaimana nasib mereka. Namaku Kirana dan tak diragukan lagi bahwa aku adalah ketua persatuan Beauty girls pernah mendapatkan berita bahwa Persatuan kami telah bubar.

Liburan kenaikan kelas telah dimulai beberapa hari yang lalu, dan aku bertekad akan menjalankan targetku. Target yang aku anggap sangatlah penting dalam hidupku. Pagi hari ini, tepat pukul 8 aku berangkat menuju Bali. Tempat kelahiranku dan dimana aku bertemu dengan Citra, Aulia, dan tentunya si manis Bella. Perjalanan berakhir pukul 9 pagi, segera menuju Hotel, dan menuju rumah Citra.
“Cit....Citra.....” sapaku ketika melihat Citra di depan rumahnya bersama seseorang yang tak asing lagi bagiku.
“Hay......Wooow, ke rumah kok gak sms dulu?” tanya Citra.
“Anggap aja Surprise buat anggota-anggota Beauty Girls” jawabku dengan sedikit keheranan, keheranan itu entah tiba-tiba muncul ketika melihat Citra dan Aulia salah tingkah. “ Kenapa kalian?” tanyaku.
“Engg....Enggak kenapa-kenapa kok Kirana” ucap Aulia yang semakin membuatku keheranan.
“Ayo diminum dulu” tiba-tiba suara yang tak pernah ku dengar menyuruhku meminum segelas sirup yang terlihat sangat merah.
“Makasih bi” ujar Citra.
“Ehmmm.....Pembantu baru nieh?” jadi berapa jumlah pembntumu?” tanyaku dengan sedikit menahan tawa.
“Cuma 2 kok, semuanya pergi gak betah sama tingkah lakumu” jawab Aulia menunjukkan jari tengahnya kepada Citra.
Hari pertama di liburan di Bali kali ini mengasyikkan, tapi yang aku fikirkan selama ini adalah kemana Bella dan apakah benar Beauty Girls telah bubar. Menuju Rumah Bella, itu adalah keputusan terakhirku selama detik ini. Tak bisa tidur, kubuka chat Facebook dan kulihat siapa saja yang online tiba-tiba secercah harapan muncul. Kusapa ia tapi tak semenit kemudian ia sudah ofline.”Bella kenapa kamu ofline? Aku kangen kamu” kata-kata itu yang kubawa hingga mimpiku. Sialnya mimpiku kali ini sangatlah buruk, sepanjang umurku tak pernah kubermimpi seburuk ini. Dalam mimpi aku bertemu dengan Bella, tapi apa yang kulihat tak seindah harapanku. Bella berubah menjadi anak yang egois, sombong dan tak selucu dulu. Alarm clockku menyadarkanku dari mimpi yang membuatku ragu menuju rumah Bella. Apakah karena ini Bella tak bersama Citra dan Aulia lagi.

“tujuanku ke Bali bukan liburan, tapi menyatukan Beauty Girls lagi jika memang mereka telah tak seperti dulu lagi” ucapku dalam hati. Puku delapan lebih tiga pulh menit aku berangkat menuju rumah Bella menaiki Taksi. Dan apa yang aku lihat dirumah yang bernuansa kerajaan ini, hanyalah kekosongan saja. “TIDAAAKKKK” teriakku keras setelah p.supir taksi yang aku kendarai tadi mengatakan bahwa pemilik rumah ini bangkrut dan tidak jelas keberadaanya saat ini dan itu sama saja Bella hilang entah kemana. Sedikit kecewa timbul dihatiku, mungkinkah aku tak bisa berjumpa lagi dengan Bella? Dan kenapa Citra dan Aulia tak mengatakan hal itu padaku.
“Pak ke jalan Raffles perumahan Bali’s home ya” ucapku kepada supir itudengan menahan air mata.
“Ia mbak” jawab supir itu.
Tak kusadari, ternyata supir itu mengawasiku sejak rasa kecewaku timbul karena kutemui rumah Bella dalam keadaan kosong ditambah teman-temanku tak pernah berkata hal ini kepadaku. Tak terasa taksi ini tepat berada di depanrumah Citra.
“Semuanya 200.000 mbak” tagih si supir.
“ouwh ia, ini” segera ku serahkan uang dari sakuku kepada sang supir kare aku tak ingin berlama-lama, aku ingin marah kepada Citra. Citra membuatku geram.
“Citra keluar kamu” teriakku keras.
“Ada apa? Kok marah-marah gitu?” tanya Citra.
“Kamu tahu dimana Bella kan? Dimana dia” jawabku.
“Bella dirumah Aulia, jangan marah-marah gitu dong”
“Di rumah Aulia? Apa benar keluarga Bella bangkrut?” tanyaku
“Bangkrut... wahaha....dapat info darimana” balik tanya Citra.
“Dari supir taksi” jawabku lugu.
“oke, aku akan cerita ...... keluarga Bella memang pernah bangkrut, tapi semenjak P.Budi yang tepatnya lagi sahabat ayah Bella membantu, mereka bekerjasama dalam urusan taksi gitu deh”
“Buktikan” ucapku dengan penasaran.
Tak lama kemudian, muncullah 2 orang yang sela ini aku idamkan Bella dan Aulia datang. Aku segera memeluk Bella dengan rasa persahabatan yang telah lama tak kurasakan. Bella menjelaskan semuanya. Bella, Citra, Aulia ternyata telah merancang semuanya. Aulia tahu kalau aku akan ke bali ketika ia melihat status facebookku yang tak pernah terfikir olehku semenjak aku hanya terfikir oleh Beauty girls, Citra memastikan taksi yang aku gunakan ketika ke rumah Citra pertama hari dan Citra memastikan apakah sama bahwa taksi langganaku tetap, Bella meminta tolong kepada ayahnya untuk membantunya dalam misi mereka, ternyata supir taksi itu adalah saudara sepupu bella. ”Makasih Surprisenya sobat, dan kini aku sadar bahwa persahabatan kita tak bisa terpisahkan”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar